Memilih vendor website mirip memilih kontraktor bangunan. Hasilnya baru terasa setelah beberapa bulan, dan biaya memperbaiki pilihan yang salah selalu lebih besar daripada selisih harga di awal.
1. Periksa portofolio yang bisa dibuka
Minta tautan website yang sedang tayang, bukan sekadar gambar tampilan. Buka di ponsel, perhatikan kecepatan membuka halaman, dan lihat apakah menu serta formulir benar-benar berfungsi. Gambar bisa dibuat siapa saja; website yang hidup tidak bisa dipalsukan.
2. Pastikan kepemilikan kode dan akses
- Siapa pemilik kode sumber setelah proyek selesai.
- Apakah domain dan hosting terdaftar atas nama usaha Anda.
- Apakah Anda menerima akses penuh ke panel pengelolaan isi.
- Apakah Anda bisa pindah vendor tanpa membangun ulang dari nol.
3. Pahami skema pembayaran dan lingkup
Skema yang sehat biasanya terbagi dua atau tiga tahap dan tertulis jelas: berapa halaman, berapa kali revisi, apa saja yang termasuk, dan apa yang dihitung tambahan. Penawaran tanpa rincian lingkup hampir selalu berakhir dengan tagihan susulan.
4. Tanyakan garansi dan dukungan
Perbaikan kesalahan setelah tayang sebaiknya ditanggung selama minimal satu bulan. Tanyakan juga jalur komunikasi setelah proyek selesai dan berapa lama biasanya permintaan perubahan kecil dikerjakan.
Tanda bahaya yang sebaiknya Anda hindari
- Menolak memperlihatkan website yang sedang tayang.
- Meminta pelunasan penuh sebelum pekerjaan dimulai.
- Menjanjikan peringkat satu Google dalam hitungan hari.
- Tidak bersedia menulis lingkup pekerjaan secara tertulis.
Vendor yang baik menjelaskan batas pekerjaannya sejak awal, bukan hanya kelebihannya.
Butuh website atau sistem seperti ini?
Ceritakan kebutuhan Anda. Kami balas dengan rekomendasi dan estimasi biaya yang jelas.

